Teroris Juga Manusia
Oleh Umar Abduh (Mantan Napol Woyla)
BAGI trio terpidana mati kasus Bom Bali I, Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra, dijuluki teroris oleh media massa lokal dan internasional, atau oleh siapapun juga, tidak membuat mereka marah atau kecil hati. Mereka yakin, apa yang mereka lakukan adalah jihad. Sehingga mereka pun yakin Allah akan memberi mereka gelar mujahid.
Bahkan, mereka sama sekali tidak merasa keberatan dengan apapun yang ditempuh pemerintah di dalam menjalankan hukuman mati atas diri mereka. Ditembak mati dengan bedil, dipancung, dialiri listrik, atau cara lainnya, bagi mereka sama saja. Semuanya menuju mati syahid. Bagaimana kita memposisikan Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra: Mujahid atau Teroris? Yang jelas, mereka juga manusia. Sebagai manusia, mereka termasuk yang mempunyai ketaatan kepada ajaran agamanya, mempunyai keseriusan di dalam mendalami ajaran agamanya, mempunyai keberpihakan kepada umat Islam.
Kalau toh akhirnya ada yang menilai mereka mengalami distorsi di dalam memaknai dan mempraktekkan jihad, itu urusan mereka dengan Allah. Bagi yang sepaham dengan ‘ijtihad’ mereka, maka Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra adalah Mujahid. Sebaliknya, bagi yang tidak sepaham, ketiganya dijuluki Teroris.
Gereja Galang Massa, Ancam Keluar Dari NKRI
Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Pendeta Eben Nuban Timo menuding DPR RI sebagai biang kerok gerakan disintegrasi bangsa. Hal ini ditandai dengan sikap DPR saat pengesahan Undang-Undang Pornografi, di mana aspirasi masyarakat yang menolak UU tersebut diabaikan demi kepentingan kelompok mayoritas.
“Pemicu gerakan separatis di Jakarta. Dari rumah konstitusi sendiri. Negara seharusnya menjamin hak setiap warganegara dan bukan hanya mengutamakan kepentingan yang mayoritas,” kata Nuban Timo di Kupang, Selasa (4/11/2008).
RS Mitra Keluarga Batalkan Pemecatan Perawat Berjilbab
Berita berkaitan pelarang jilbab sudah sering kita dengar, namun di Indonesia khususnya di Jakarta sangat jarang kita dengar bahkan di era Orde Baru sekalipun. Namun belum lama ini terjadi pelarangan Jilbab terhadap salah seorang karyawan sebuah RS Swasta di Bekasi.
BEKASI — Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Barat
memutuskan mempekerjakan kembali karyawannya, Wine Dwi Mandela, yang dipecat karena mengenakan jilbab. Manajer Sumber Daya Manusia dan Personalia Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Barat E. Setyodewi mengatakan manajemen mengakomodasi keinginan Wine mengenakan seragam dinas ditambah jilbab dan manset ketika bekerja.
Revolusi Kimia dalam Peradaban Islam

Abu Musa Jabir Ibn Hayyan “The Father of Chemistery”
Ilmu kimia merupakan sumbangan penting yang telah diwariskan para kimiawan Muslim di abad keemasan bagi peradaban modern. Para ilmuwan dan sejarah Barat pun mengakui bahwa dasar-dasar ilmu kimia modern diletakkan para kimiawan Muslim. Tak heran, bila dunia menabalkan kimiawan Muslim bernama Jabir Ibnu Hayyan sebagai ‘Bapak Kimia Modern’.”Para kimiawan Muslim adalah pendiri ilmu kimia,” cetus Ilmuwan berkebangsaan Jerman di abad ke-18 M. Tanpa tedeng aling-aling, Will Durant dalam The Story of Civilization IV: The Age of Faith, juga mengakui bahwa para kimiawan Muslim di zaman kekhalifahanlah yang meletakkan fondasi ilmu kimia modern.
Aisha Canlas, Merasakan Kedamaian Mendengar Suara Adzan
Aisha Canlas, adalah penganut Katolik sebelum menjadi seorang Muslim. Kedua orantuanya juga Katolik, namun ketika itu ia menjadi anggota perkumpulan gereja yang berbeda dengan gereja kedua orangtuanya. Namun mereka sama-sama berdoa di depan gambar sosok laki-laki yang diyakini sebagai Tuhan umat Kristiani. Saat itu, Canlas sering bertanya, benarkah ini wajah Tuhan? Bagaimana sesorang bisa tahu seperti apa wajah Tuhan? Apakah mereka sudah pernah bertemu dengan Tuhan?
Di sisi lain, Canlas selalu merasa ketenangan dan kedamaian ketika mendengar suara adzan dari sebuah masjid di kota Manila, Filipina. “Saya selalu memejamkan mata dan merasakan ketenangan meskipun, saya tidak tahu makna kata-kata dalam adzan. Suara adzan seperti suara musik di hati saya,” tutur Canlas.
Tapi saat itu, ia sama sekali belum terpikir untuk masuk Islam. Canlas akhirnya merantau ke Arab Saudi untuk bekerja, dengan harapan bisa memberikan masa depan yang lebih baik untuk keluarganya. Sebelum berangkat ke Saudi, Canlas belajar banyak hal tentang Saudi untuk menghindari syok akibat perbedaan budaya dan untuk memudahkannya bergaul di negara tempat ia bekerja.
“Saya belajar tentang budaya, dan tentang negara Saudi secara keseluruhan, mulai dari bahasa dan tentu saja agamanya. Dan saya mulai tertarik dengan agama Islam dan ingin lebih tahu banyak tentang Islam,” ujar Canlas.
Komunitas Cina Muslim: Minoritas di Antara Minoritas

Mualaf Bule bersyahadat di mesjid Cheng Ho
Populasi Cina muslim terus tumbuh di berbagai kota besar di Indonesia, tapi persentasenya amat kecil. Di Indonesia, keturunan Cina banyak memeluk agama Kristen, Katolik, atau Konghucu. Pemeluk Islam dari kalangan ini sangat kecil. Mereka tersebar di berbagai kota di Indonesia. Jumlahnya tidak jelas karena tidak pernah dilakukan pendataan yang serius. Di Indonesia, komunitas Cina muslim dipayungi Yayasan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Organisasi ini punya cabang di 16 kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Pontianak. Jumlah Cina muslim di Indonesia tak kurang dari 80.000 orang. Mereka menjadi minoritas muslim di antara minoritas Cina. Dengan posisi seperti ini, katanya, peran mereka jarang terlihat. Tidak ada data statistik yang jelas. Peran Haji Karim Oei sangat besar. Dari tahun 1991 sampai sekarang, Masjid Lautze mengislamkan lebih dari 1.600 orang. Dua tahun terakhir, setiap minggu ada dua sampai tiga orang yang menjadi mualaf yang berikrar Islam di masjid ini.
![]()
Craig Abdurrohim Owensby : ‘Alquran Seluler Sebagai Kompetitor Evangelis’
Baca Juga: Craig abdurrohim Owensby, Keajaiban Al Quran Melembutkan Hatiku
Menyabet gelar MBA dan bekerja di sejumlah perusahaan prestisius di negerinya, Amerika Serikat, serta menikmati kesenangan duniawi, tak membuat Craig Abdurrohim Owensby bahagia. Bathinnya hampa. Dia butuh pencerahan rohani sebagai pengimbang.
Setelah bertahun-tahun merintis karir, Craig memutuskan belajar Injil, teologi, dan keislaman di Princeton Theological Seminary, Princeton, NJ. Beberapa tahun kemudian ia menjadi pendeta mengikuti jejak sang ayah yang pendeta Katolik di sebuah gereja di New York dengan 6.000 pengikut. Meski sukses sebagai pendeta, kebahagian dan ketenangan yang ia dambakan belum juga berpaling kepadanya. Craig justru kian resah dengan konsep ketuhanan Yesus yang ia pelajari. Pengetahuan yang ia miliki membuatnya tak percaya bahwa Isa adalah Tuhan. “Injil menjelaskan bahwa Isa adalah tuan, bukan Tuhan,” katanya.
Banyak Personilnya Yang Bunuh Diri, Militer AS Minta Bantuan Pihak Luar
Angkatan darat AS, pada Rabu (29/10) mengumumkan rencana kerjasama dengan Lembaga Kesehatan Mental untuk mengidentifikasi penyebab dan faktor resiko bunuh diri yang terus meningkat dikalangan tentara AS dalam beberapa tahun terakhir. Dalam keterangannya, Angkatan Darat AS akan mensurvey ribuan tentara untuk dijadikan objek penelitian. Mereka akan diwawancarai untuk memberikan akses data base, termasuk para medis, personil dan sejarah. Objek penelitian nantinya akan meliputi para prajurit yang telah bergabung dalam pelatihan perang dan mereka yang telah kembali dari medan peperangan. Kerjasama identifikasi itu diperlukan guna mengungkap penyebab terus meningkatnya jumlah tentara AS yang melakukan bunuh diri.
Data yang dikeluarkan oleh militer AS, menyebutkan, bunuh diri di kalangan tentara dalam Angkatan Darat terus meningkat sejak invasi Irak tahun 2003. Pada tahun 2007, 115 tentara dilaporkan tewas bunuh diri atau mencapai tingkat 18,1 per 100.000 orang, atau 1 persen lebih rendah dari tingkat bunuh dikalangan penduduk sipil.
Buah Delima, Virus Anti HIV, Al Quran
Mahasiswa Unsyiah melakukan kajian, Analisis potensi pemanfatan buah delima (punica granatum sebagai pembunuh virus (virusid) dan anti HIV I yang resisten nucleotida dan non nucleotide berdasarkan tinjauan ilmiah dan Al-Quran
BANDA ACEH — Harapan T (23), mahasiwa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh yang menganalisis virus anti HIV dari tinjauan Alquran, menjuarai lomba karya tulis ilmiah Islam nasional yang berlangsung di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Karya ilmiahnya berjudul “Analisis potensi pemanfatan buah delima (punica granatum sebagai pembunuh virus (virusid) dan anti HIV I yang resisten nucleotida dan non nucleotide berdasarkan tinjauan ilmiah dan Al-Quran,” dipilih sebagai makalah terbaik oleh dewan juri lomba.
Estanislao Soria, Pendeta Katolik Filipina yang Menemukan Cahaya Islam
Ketika tokoh Muslim Moro, Nur Misuari menyatakan wilayah Mindanao harus memisahkan diri dari Filipina dan menjadi negara Islam, Estanislao Soria menjadi orang yang paling menentang keinginan Misuari. Sebagai seorang tokoh agama Katolik yang lahir di Mindanao, ia menolak keras jika tanah kelahirannya diambil alih oleh orang-orang Muslim. “Saya sangat tidak setuju dengan Misuari dan saya memelopori kampanye menentang gerakan Moro,” kata Soria yang populer di panggil “Father Stan“. Ketika itu, selain dikenal sebagai pendeta Katolik, Soria juga dikenal sebagai seorang sosiolog.
Sebagai seorang cendikiawan, ia tidak mau sembarangan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keinginan Misuari. Soria pun melakukan riset sejarah dan sosial serta membaca artikel-artikel tentang Islam, untuk memperkuat argumennya menolak tuntutan gerakan Moro yang ingin menjadikan Mindanao sebagai tanah air bagi Muslim Filipina. Tapi siapa nyana, artikel-artikel tentang Islam yang ia baca, justru membawanya menjadi seorang Muslim.